Selasa, 12 Februari 2013

Kitab Taqrib At-Tahdzib Karya Ibn Hajar al-‘Asqalani

A. Pendahuluan

Sebuah karya yang sangat besar sumbangsihnya dalam perkembangan ulumul hadits ialah adanya keberadaan kitab rijal hadits[1] yang membahas para rawi (penyampai hadits). Ilmu Rijal al-Hadits memiliki dua anak cabang, yaitu Ilmu Tarikh ar-Ruwah atau Ilmu Tarikh ar-Rijal yang didefinisikan sebagai Ilmu yang membahas keadaan para rawi dari CV (Curicullum vitae) mereka dalam meriwayatkan hadits. Dan Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, yaitu Ilmu yang membahas keadaan para rawi dari segi diterima atau tidaknya periwayatan mereka.

Dapat kita tarik benang merah, bahwa Ilmu Rijal al-Hadits pada dasarnya memiliki dua pokok bahasan yaitu biografi (history) para rawi, serta dari segi penilaian kualitas individu tiap rawi. Tulisan ini sedikit memaparkan kajian pada kitab Tahdzib at-Tahdzib salah satu karya Ibn Hajar dalam bidang Ilmu Rijal al-Hadits yang cukup dikenal dan banyak dikonsumsi oleh kalangan yang terlibat dalam ruang lingkup kajian rijal hadits.

B. Informasi Ringkas tentang kitab Taqrib At-Tahdzib

Berdasarkan pengakuan Ibnu Hajar sendiri[2], kitab ini adalah salah satu mukhtashar (ringkasan) dari kitab al-Kamal fi Asma` al-Rijal karya al-Imam al-Hafidz Abu Muhammad ‘Abdu al-Ghaniy bin ‘Abdu al-Wahid al-Maqdisiy (w. 600 H.). Sebenarnya kitab al-Maqdisi—dikatakan pada pengantar Taqrib al-Tahdzib adalah kitab pertama yang membahas secara khusus dalam fan ilmu rijal ini, hanya saja kitab ini terlalu memperpanjang pembahasan tentang sejarah rawi. Kemudian al-Hafidz Abu al-Hajjaj Yusuf bin Abd al-Rahman al-Miziy meng-editnya dalam kitab Tahdzib al-Kamal.

Para ulama kemudian mengedit lagi kitab ini. Sebagian kitab editan itu adalah kitab yang ditulis oleh al-Dzahabiy, yaitu Tahdzib Tahdzib al-Kamal. Ada lagi yang ditulis oleh Ibnu Hajar yaitu Tahdzib al-Tahdzib. Di dalamnya diringkas menjadi hanya yang berkenaan dengan jarh dan ta’dil dari kitab asli Tahdzib al-Kamal. Kemudian Ibnu Hajar meringkas Tahdzib al-Tahdzib, menjadi kitab Taqrib al-Tahdzib.

Dalam Mukadimah Taqrib At Tahdzib disebutkan bahwa faktor dikarangnya kitab ini karena permintaan sebagian sahabatnya agar ia mengkhususkan pada kitab tersendiri menulis para rawi yang dibiografikan dalam Tahdzib At Tahdzib. Awalnya permintaan mereka tidak diterima. Kemudian setelah beliau melihat segi positif dibalik permintaan ini, ia menerimanya.

Tentu saja dalam berpegang dengan sebuah hadits, disyaratkan hadits yang dijadikan rujukan adalah terjamin keasliannya. Nah, salah satu cara dalam menilai sebuah hadits adalah dengan meneliti sanad dalam hadits tersebut. Dalam proses ini, selain kita memerlukan ilmu tarikh al-ruwat (sejarah para perawi hadits), kita juga memerlukan bantuan ilmu yang membahas tentang kualitas rawi itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui tarikh al-ruwat berfungsi untuk menelah kebersambungan sanad berdasarkan waktu kapan dia lahir dsb. Salah satu karya terbaik dalam bidang penelitian rijal ini adalah apa yang telah Ibnu Hajar al-Asqalani bahas dalam salah satu kitabnya, Taqrib al-Tahdzib.

C. Biografi Penulis

Namanya adalah Syihab ad-Din Abi al-Fadl Ahmad ibn ‘Ali ibn Hajar al-’Asqalani [selanjutnya disebut Ibn Hajar], lahir di Mesir 12 Sya’ban 773 H dan wafat tahun 852 H. Sejak kecil Ibn Hajar telah piatu dan diasuh oleh ayahnya yang juga merupakan ahli fiqih, bahasa dan qira’ah. Selain itu Ibn Hajar juga telah mampu menghafal al-Qur’an dengan sempurna sejak umur 9 tahun.

Ibn Hajar tergolong ulama yang cukup produktif menghasilkan karya-karya dalam khzanah keislaman. Diantaranya adalah Fath al-Bari sebuah karya yang mencoba memberikan syarh terhadap kitab kumpulan hadits karya Imam Bukhori. Selain itu Ibn Hajar juga cukup concern dalam kajian Rijal al-Hadits. Diantara kitab-kitabnya adalah al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, Tahdzib at-Tahdzib, Taqrib at-Tahdzib dan Lisan al-Mizan dll.

Kitab Taqrib At Tadzhib merupakan salah satu kitab Biografi khusus tokoh-tokoh hadis kitab Sohih dan Sunah yang empat. Pada kitab ini Ibnu Hajar Al Asqalany (w.852 H) meresume kitabnya sendiri “Tahdzib at Tahdzib” menjadi seperenamnya. Kitab Tahdzib at Tahdzib Ibnu hajar (w. 852 H) disusun untuk meresume kitab Tahdzib Al kamal karangan Al Mizzy ( w.742 H) dan Kitab Tahdzib Al kamal disusun untuk meresume Kitab Al kamal fi Asma Ar Rijal karangan Al Hafidz Abdul Ghony bin Abdul wahid Al maqdisy al jamma’ily al Hambali (w.600 H).[3]



D. Manhaj yang disusun pada Kitab Taqrib Al Tahdzib[4]

Dalam resume ini Ibnu Hajar melakukan langkah-langkah :

1.Menempatkan keterangan-keterangan shahih dalam penyusunan kitab ini, dengan merujuk kepada sumber-sumber lain dalam fan ilmu rijal ini yang disusun dan dicetak memudahkan.

2. Disebutnya semua biograf yang terdapat pada Tahdzib At Tahdzib tidak dibatasinya hanya pada biografi para rawi kitab-kitab hadis yang enam seperti yang dilakukan oleh Adz Dzahabi dalam “Al Kasyif” sebagaimana ia susun biografi itu berdasar urutan yang dibuatnya sendiri pada “At Tahdzib”

3. Ditulisnya rumus-rumus yang pernah dicantumkan sendiri pada “Tahdzib At Tahdzib”. Bedanya ia berbeda dengan rumus Sunan yang empat jika rumus-rumus itu kebetulan sama. Pada At Tahdzib diberinya rumus ( ع ) dan pada kitab ini diberinya rumus ( عم ). Seperti ditambahkannya satu rumus yang tdak terdapat pada “At Tahdzib” yaitu kata-kata (تمييز ) / Tamyiz. Kata-kata ini isyarat untuk orang yang tidak mempunyai riwayat dalam kitab-kitab yang menadi pokok bahasan kitab itu.

4. Dalam mukaddimah disebutkannya urutan para rawi. Dibatasinya mereka menjadi dua belas tingkat. Disebutnya lafadz-lafadz al Jarh wa at ta’dil yang masing-masing mempunyai lawan kata. Bagi perujuk kitab ini hendaknya memperhatikan tingkatan-tingkatan ini dan lafadz-lafadz lawannya sehingga tidak keliru. Karena mungkin saja, sebagian istilah digunakannya terminology khusus pada kitab ini.

4. Dalam mukaddimah kitab itu disebutkan juga thobaqat para rawi yang biografinya ditulis dibuat dua belas thobaqot juga. Sebelum merujuk (menggunakan) kitab ini selayaknya diketahui thobaqot-thobaqot tersebut hingga perujuk dapat mengetahui terminologi khusus versi Ibnu Hajar dalam kitab ini.

5.Pada resume ini, ditambahkannya satu pasal di akhir kitab yang berhubungan dengan penjelasan kaum wanita shohabiyah yang masih samar berdasarkan urutan orang yang meriwayatkan dari mereka pria atau wanita.



E. Tingkatan Jarh dan Ta’dil dalam Taqrib [5]

Ibnu hajar menyusun tingkatan jarh dan ta’dil ini menjadi 12 tingkatan:

1. Yang pertama adalah Sahabat.

2. Orang yang dikuatkan keterpujiannya, ini ditandai dengan penetapan sifat seperti tsiqat, atau af’al al-tafdil, seperti autsaaq al-Nas, atau penetapan ma’na seperti tsiqat hafid.

3. Orang yang hanya mempunyai satu sifat, seperti tsiqat, mutqin tsabat, atau‘adl.

4. Orang yang derajatnya berkurang sedikit dari derajat yang ketiga biasanya diberi isyarah dengan shaduq sayyi`al-hifdz, shaduq yuhamm, lahu auham, yukhthi`, atau taghayyara bi akhiratin.

5. Orang yang tidak punya banyak hadits, biasanya diisyarahkan dengan maqbul.

6. Orang yang jumlah orang yang meriwayatkan darinya lebih dari satu dan tidak kuat, biasanya diisyarahi dengan mastur atau majhul hal.

7. Orang yang tidak ditemukan penguat untuk menjadi mu’tabar baginya, dan ditemukan kelemahan orang itu, biasanya diberi isyarah dengan dla’if.

8. Orang yang hanya diketahui oleh satu orang dan tidak kuat, biasanya dinamakan majhul.

9. Orang yang tidak kuat, dlaif malahan ada yang mencelanya, namanya matruk/matruk al-hadits.

10. Orang yang diduga berbohong.

11. Orang yang menyandang gelar al-kadzdzab.



Dalam Taqrib al-Tahdzib juga terdapat rumus-rumus yang menjadi kode dari mukharrij hadits. Adapun kode-kode tersebut adalah sebagai berikut[6]:



1) Shahih Bukhari (خ)

2) Mu’allaq dalam al-Bukhari (خت)

3) Adab al-Mufrad dalam al-Bukhari (بخ)

4) Bab Khalq Af’al al-‘Ibad dalam al-Bukhari (عخ)

5) جزء القراءة خلق الامام dalam al-Bukhari (ز)

6) رفع اليدين dalam al-Bukhari (ي)

7) Shahih Muslim (م)

8) Muqaddimah Muslim (مق)

9) Sunan Abu Dawud (د)

10) المراسيل dalam Abu Dawud (مد)

11) Fadlail al-Anshar dalam Abu Dawud (صد)

12) الناسخ dalam Abu Dawud (خد)

13) القدر dalam Abu Dawud (قد)

14) Bab التفرد dalam Abu Dawud (ف)

15) المسائل dalam Abu Dawud (ل)

16) Abu Dawud bab Musnad Malik (كد)

17) Sunan Tirmidzi (ت)

18) الشمائل dalam al-Tirmidzi (تم)

19) Sunan al-Nasa`I (س)

20) Musnad ‘Ali dalam al-Nasa`i (عس)

21) ‘Amal al-yaum wa al-lailah dalam al-Nasa`I (سي)

22) Musnad Malik dalam al-Nasa`i (كن)

23) Keistimewaan (khasa`ish) imam ‘Ali dalam al-Nasa`i (ص)

24) Sunan Ibnu Majah (ق)

25) Bab al-Tafsir dalam Ibnu Majah (فق)

26) Jika ada hadits seorang rijal yang hanya ada satu dalam satu kitab hadits saja dari kutub al-sittah maka cukup dengan nomor hadits itu sendiri walaupun hadits itu ditakhrij lagi bagi rijal itu di selain kutub al-sittah.

27) jika hadits tersebut ada di semua kitab hadits yang kita kenal dengan kutub al-sittah maka kodenya adalah (ع)

28) jika hadits tersebut ada di setiap kutub al-Tis’ah selain Bukhari Muslim maka kodenya adalah (4).

29) Untuk orang yang menurut para ulama tidak ada riwayat untuknya diberi tanda dengan تميزز, dengan maksud memberitahukan bahwa yang ini berbeda dari yang lainnya, orang-orang (rijal) yang tidak ada tandanya diberi penjelasan sebelum atau sesudahnya.



Kitab Taqrib al-Tahdzib ini disusun secara alfabetis[7], yakni tersusun dari hamzah sampai ya`. Akan tetapi, pada pembahasan huruf hamzah terdapat keunikan. Pada permulaan pembahasan diawali dengan membahas rijal yang bernama Ahmad, kira-kira sampai rijal yang ke-130. Kemudian diikuti dengan rijal yang bernama Adam dimulai dari nomor 132 sampai nomor rijal ke-135. Sedangkan yang ke-131 diisi oleh Ibrahim. Tidak diketahui mengapa terjadi ketidak-teraturan dalam penulisan Ibrahim ini. Sebenarnya kata Ibrahim ini seharusnya diletakkan di belakang kata Aban, yang kata ini ditulis setelah kata Adam.

Kata Aban (أبان) ini sendiri tertulis sebanyak delapan kali yaitu dari nomor rijal ke-135 sampai yang ke-143. Selanjutnya kata Ibrahim yang terttulis mulai dari nomor rijal sampai ke-280. Setelah itu barulah dimulai dengan kata Aby atau Abu. Penulisan Ibrahim, Adam dan Ahmad kemungkinan untuk memuliakan atau semacam tabarruk-an, namun pembahas tidak mengetahui secara pasti kenapa dimulai dengan Ahmad. Yang juga unik, kenapa nama Aban masuk justru di tengah-tengah kata Adam dan Ibrahim, yang penyebutannya diawalkan mungkin karena kesemuanya merupakan nama-nama para nabi.

Sedangkan nama Aban ini tidak diketahui apakah ia seorang nabi atau bukan. Akan tetapi untuk memberikan alasan bahwa mereka adalah nama-nama nabi kurang tepat juga, karena di belakang juga terdapat nama Ishaq yang letaknya justru setelah kata Usamah. Begitu pula kata Isma’il dan Ayyub tidak didahulukan seprti kata Ahmad. Bab hamzah ini berakhir pada kata Ayyub yang bernomor 633.

Bab al-Ba` dimulai dari rijal bernomor 634, di situ ia bernama Bab, yang diakhiri dengan rijal bernomor 794 yang bernama Bayhas/Bayhus. Setelah itu bab huruf ta` dimulai dari rijal ke-795 sampai rijal ke-811. Kemudian penulis menempatkan nama-nama rijal dengan dimulai huruf tsa (ث) pada antara nomor rijal 812 hingga 864, baru setelah itu disusul dengan huruf jim ج)) sampai urutan ke-994. Ha (ح) ada pada posisi 995sampai 1611. Disusul dengan kha` (خ) pada nomor 1612 sampai 1780. Dal (د) 1781 sampai 1844. Dzal (ذ) 1845 sampai 1856. Ra` (ر) 1857 sampai 1981. Zayun (ز) dari 1982 sampai 2173. Lalu sin (س) dari 2174 sampai 2196. Adapun setelah sin ini––untuk kitab yang saya temukan—tidak ada penomoran lagi hingga ya (ي).

Di sini nampaknya ada perbedaan waktu penulisan antara bab asma` rijal dan bab-bab sesudahnya. Kesimpulan ini berdasar pada pembacaan pembahas pada akhir dari bab ini, ada keterangan bahwa bab ini diselesaikan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal 862 H. Bab ini berakhir pada Juz II. Akan tetapi, bab-bab selanjutnya dirampungkan setelah satu tahun selesainya bab ini

Kemudian dilanjutkan dengan bab al-Kuna (kunyah-kunyah). Sistematika dalam bab ini juga diurutkan sesuai huruf hija`iyyah. Seperti kita ketahui kunyah adalah nama yang diawali dengan kata Abu dan sejenisnya. Penyusunan alfabetisnya yang dimaksud yaitu huruf pertama kata Abu, seperti nama rijal yang termasuk pada bab ya ini, أبو يحيى الاسلامى.

Adapun setelah itu ada bab orang-orang yang dinisbatkan kepada ayahnya, ibunya, kakeknya atau bahkan pamannya. Bab ini juga disusun alfabetis. Bab orang-orang yang dinamakan berdasarkan qabilah-qabilah, negara-negara atau tempat-tempat keramaian, seperti al-Anbariy yaitu Muhammad bin Sulaiman.

Kemudian ada bab laqab-laqab dan sejenisnya, seperti al-Abrasy adalah Muhammad bin Harb nama ini juga untuk Salamah bin al-Fadl.

Kemudian juga ada bab al-Nisa`. Tampaknya bab ini juga disusun secara alfabetis. Akan tetapi, pembahas menemukan, sepanjang penelusuran yang telah dilakukan, ada huruf yang terlewatkan seperti ta (ت) yang langsung meloncat ke jim (ج). Pembahas tidak mengetahui apa yang menyebabkan peloncatan ini. Apakah tidak ada perowi perempuan yang mempunyai nama dengan di awali dengan huruf tsa` atau seperti apa. Dalam bab al-Nisa` ini, seperti pada bab asama` al-rijal, juga menampilkan kunyah-kunyah dari para perawi perempuan.

Ada beberapa pasal dalam asma al-Nisa` ini. Diantaranya ada pasal tentang nama orang yang dikatakan “dia anak perempuan fulan” (فصل في من قيل لها ابنة فلان), seperti “Ibnatu al-Harits bin ‘Amir….”. Ada juga pasal laqab-laqab al-Juhdumah (الجهدمة). Pembahas kurang faham dengan apa yang dimaksud dengan pasal ini. Kemudian pasal yang menjelaskan Nisa` yang mubham.

Bab ini dibagi menjadi dua. Pertama, berdasarkan urutan orang yang meriwayatkan dari perempuan itu laki-laki, seperti Ishaq al-Hasyimiy ‘an jaddatih …. Kedua, yang meriwayatkan dari perempuan itu juga perempuan, seperti Umayyah binti Abi al-Shillat dari imroati man bin Ghifar, dikatakan nama seoerang perempuan (imroat)itu adalah laila….

Adapun bab ini adalah bab terakhir dari kitab juz dua ini. Tampaknya memang kitab ini tersusun atas dua juz—untuk kitab yang pembahas temukan. Dalam penyusunan yang ke dua ini, penulis telah menyelesaikannya pada hari Rabu 14 Jumadil Akhir 827 H. artinya satu tahun setelah penyusunan kitab asma` al-rijal.

F. Kesimpulan

Kitab ini cukup memadai bagi penuntut pemula dalam disiplin ilmu ini, terutama mengenai pokok bahasan cara menilai seseorang dari segi al Jarh wa at Ta’dil. Kepada perujuk ditawarkannya kata-kata singkat dan padat. Secara khusus dilihat bahwa ia tidak menyebut guru, atau murid maupun bagi rawi yang biografinya ditulis, karena alasan seperti dijelaskan dimuka. Mungkin juga kitab Al kasyif Dzahabi dan kitab Al Khulasot Al khojroji berbeda dengan kitab At Taqrib dalam segi ini. Wallahua’lam.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqolani, Muqaddimah pada kitab Taqrib al Tahdzib, (Riyadh : Dar El Ashimah,1423 H).

______________DR.M.Ajjaj al Khatibi, Ushulul Hadits Ulumuhu wa Mustholahuhu,(Beirut: Dar el Fikr,2008).____________________________________________________

Sebuah blog www.it change.sunnah.blogspot.com.kiriman tanggal 12 April 2010

___________________ Prof. Dr. Mahmud Al Thohhan, Ushul At Takhrij Wa Dirasatul Asanid, Al jamiah al Amrikiyah Al maftuhah, 1425 H/2005 M





















[1] Ilmu Rijal Hadits merupakan kajian yang urgen dalam studi ulumul hadits, karena ilmu hadits tidak terlepas dari dirosah sanad dan matan. Dan Rijal Sanad lah yang membahas mereka para perowi hadits dan merupakan salah satu bagian dari Ilmu Rijal, dengan latar belakang tersebut para ulama memberikan perhatian khusus dengan membuat kitab-kitab Rijal.(DR.M.Ajjaj al Khatibi, Ushulul Hadits Ulumuhu wa Mustholahuhu,(Beirut: Dar el Fikr,2008)hlm.164.



[2] Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqolani, Muqaddimah pada kitab Taqrib al Tahdzib, (Riyadh : Dar El Ashimah,1423 H) hlm.12.



[3] Disadur dari sebuah blog www.it change.sunnah.blogspot.com.kiriman tanggal 12 April 2010



4Prof. Dr. Mahmud Al Thohhan, Ushul At Takhrij Wa Dirasatul Asanid, Al jamiah al Amrikiyah Al maftuhah, 1425 H/2005 M





[5] Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqolani, Muqaddimah pada kitab Taqrib al Tahdzib, (Riyadh : Dar El Ashimah,1423 H) hlm.79-81.



[6] Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqolani, Muqaddimah pada kitab Taqrib al Tahdzib, (Riyadh : Dar El Ashimah,1423 H) hlm.83.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kizzz